Tercium aroma menyengat melati dan kamboja bersatu, bersamaan dengan terinjaknya tanah merah lunak diiringi langkah kaki yang semakin berat. Hamparan batu batu nisan menyambut, seakan orang yang datang akan diterpa dengan perasaan duka yang datang entah dari mana. Terlihat beberapa pasang mata sembab saling beradu namun kembali tertunduk melanjutkan jalannya. Nampak sebuah nisan yang belum lama tertancap di tanah menandakan akhir dari sebuah tujuan. Terlihat seorang gadis kecil memeluk erat batu nisan hitam yang sudah sedikit tertutup debu pasir di atas ukirannya. Seakan ia ingin nisan tersebut tahu betapa rindunya ia pada seseorang yang telah terkubur di dalamnya. "Selamat lebaran ibu, Aku merindukanmu" ucap gadis berkulit putih pucat itu dengan menatap kosong batu nisan di depannya. Segala pikirannya tengah terarah pada kenangan masa lalu. Hari dimana semua orang berpeluk hangat melepas rindu. Sedang, Ia hanya dapat memeluk dinginnya batu nisan meratapi ora...
Tatapan pandanganya kosong kedepan. Kali ini seharusnya suara tangisnya lebih keras, namun ia bungkam tak menunjukannya. Memori akan kegagalan dahulu terputar kembali, membuatnya seakan terhunus tombak tak kasat mata tepat di ulu hatinya. "Ingin kita hentikan disini saja? Kalau lelah katakanlah" tanya seseorang didepannya yang melempar tatapan mengiba. "Belum tahu, yah" jawabnya tanpa melihat mata orang yang di ajak berbicara. Manik matanya masih fokus pada satu titik yang membawanya ke alam lamunan. Sepanjang hari bibirnya menipis, menunjukan senyum kebohongan manis demi menutupi rasa pedih. Kecewa? Ya tentu saja. Dua kali pahitnya kegagalan ia telan. Hatinya bergemuruh, ingin rasanya menangis saat itu. Namun sepertinya tangis hanya akan membuat orang di sekitarnya menjadi biru. 'Mungkin, ini belum saatnya' Ucapnya dalam hati.