Langsung ke konten utama

Postingan

Rindu

Tercium aroma menyengat melati dan kamboja bersatu, bersamaan dengan terinjaknya tanah merah lunak diiringi langkah kaki yang semakin berat. Hamparan batu batu nisan menyambut, seakan orang yang datang akan diterpa dengan perasaan duka yang datang entah dari mana. Terlihat beberapa pasang mata sembab saling beradu namun kembali tertunduk melanjutkan jalannya.  Nampak sebuah nisan yang belum lama tertancap di tanah menandakan akhir dari sebuah tujuan. Terlihat seorang gadis kecil memeluk erat batu nisan hitam yang sudah sedikit tertutup debu pasir di atas ukirannya. Seakan ia ingin nisan tersebut tahu betapa rindunya ia pada seseorang yang telah terkubur di dalamnya. "Selamat lebaran ibu, Aku merindukanmu" ucap gadis berkulit putih pucat itu dengan menatap kosong batu nisan di depannya. Segala pikirannya tengah terarah pada kenangan masa lalu. Hari dimana semua orang berpeluk hangat melepas rindu. Sedang, Ia hanya dapat memeluk dinginnya batu nisan meratapi ora...
Postingan terbaru

(Kembali) Jatuh

Tatapan pandanganya kosong kedepan. Kali ini seharusnya suara tangisnya lebih keras, namun ia bungkam tak menunjukannya. Memori akan kegagalan dahulu terputar kembali, membuatnya seakan terhunus tombak tak kasat mata tepat di ulu hatinya. "Ingin kita hentikan disini saja? Kalau lelah katakanlah" tanya seseorang didepannya yang melempar tatapan mengiba. "Belum tahu, yah" jawabnya tanpa melihat mata orang yang di ajak berbicara. Manik matanya masih fokus pada satu titik yang membawanya ke alam lamunan. Sepanjang hari bibirnya menipis, menunjukan senyum kebohongan manis demi menutupi rasa pedih. Kecewa? Ya tentu saja. Dua kali pahitnya kegagalan ia telan. Hatinya bergemuruh, ingin rasanya menangis saat itu. Namun sepertinya tangis hanya akan membuat orang di sekitarnya menjadi biru. 'Mungkin, ini belum saatnya' Ucapnya dalam hati.

Jatuh

Sambil sesegukkan ia menepuk nepuk pundak seseorang yang berada di sebelahnya. Menyampaikan betapa bangga ia bisa sampai berada di tempat ini meski untuk menyaksikan kegagalan putrinya di tahap terakhir. “Jalanmu masih panjang nak” Ucap Pria paruh baya yang tak jauh dari tempatnya duduk. “Tidak perlu sedih. Ayah dan Ibu mendukungmu nak. Kegagalanlah yang membuatmu kuat. Perjuangan tak terasa manis tanpa menyesap pahitnya gagal” tambahnya. Ia yang sedang di ajak bicarapun hanya menunduk diam tak berucap. Bulir air mata lolos dari keduamatanya. Hanya lewat tangisan ia mengutarakan kesedihannya.

Aesthetics

Aku ingin selalu merekam hal hal yang manis. Agar hingga tiba saatnya tiap detik menipis menjadi habis dan perpisahan tak dapat ditepis. Namun, cerita tentang kita tidak pernah terkikis.

kelabu

Gadis itu menangis sesegukan sembari memeluk lutut nya di dekat pintu merah. air matanya yang tumpah sejak pagi buta tampak tak habis melihat betapa basah kini gaun hitamnya. rambut panjangnya menjuntai seakan membuat tirai pertahanan agar orang lain tidak dapat melihat wajah pilunya. orang berlalu lalang bergantian menepuk nepuk pundaknya dengan sayang. sembari memberi ungkapan bela sungkawa dan petuah agar tegar. Namun tetap, lantunan kata 'Ibu' tak luput ia ucapkan di sela tangisannya.

Laksana

Aku ini Angin, berhebus kencang namun tetap tak terlihat. Aku ini Hujan, apapun yang terjadi selalu terjatuh pada akhirnya. Aku ini Sepatu, tak mungkin ada di atas namun berguna saat terinjak. Aku ini Gersang, kering, sepi dan sangat menjengkelkan.